Ambasador Cellular

Pengguna Handphone


    Bupati/Walikota Setuju Tambang Timah Swasta Ditutup

    Share

    wiewiellen
    Admin
    Admin

    Male Jumlah posting : 340
    Registration date : 23.10.08

    Bupati/Walikota Setuju Tambang Timah Swasta Ditutup

    Post by wiewiellen on Tue Oct 28, 2008 12:31 pm

    Senin, 27 Oktober 2008 15:14:44 WIB

    PANGKALPINANG -- Bupati/walikota seBabel sepakat dan menyetujui maklumat terkait penutupan tambang timah swasta yang dikeluarkan oleh gubernur. Hal tersebut tertuang usai enam bupati/walikota -- kecuali Bupati Beltim -- , bersama unsur muspida mengikuti rapat koordinasi yang digelar di ruang pertemuan lantai II kantor gubernur, Air Itam, Senin (27/10). Hadir diantara undangan antara lain Bupati Bangka Yusroni Yazid, Bupati Bateng Abu Hanifah, Bupati Babar Parhan Ali, Bupati Basel Justiar Noer, caretaker Bupati Belitung Haryono Moelyo, Kajati, Wakapolda, Danrem, serta Danlanal.

    Gubernur Babel Eko Maulana Ali kepada Bangka Pos Group menegaskan bahwa formulasi poinpoin terkait penutupan tambang swasta tersebut sudah selesai disusun. Pihaknya akan segera mengirimkan formulasi tadi ke DPRD dan jika formulasi tersebut disetujui, maka penutupan bisa dilaksanakan dalam waktu yang tak ditentukan.

    "Kalau mau, hari ini juga bisa saya kirim. Kita harus tunggu persetujuan dewan. Kalau mereka setuju, kita siap. Adapun dua poin formulasi itu antara lain menghentikan kegiatan tmbang timah kepada perusahaan swasta pemegang KP yang sah sampai waktu tetentu atau bila harga dianggap sudah cukup layak. Kedua, meminta kepada PT Timah dan PT Kobatin untuk mengurangi produksi sampai batas tertentu yaitu hanya untuk memenuhi kuota pelanggan yang sudah terikat kontrak," papar Eko.

    Ia melanjutkan, maklumat yang dikeluarkannya ini jangan sampai diketahui oleh pialang atau para broker. Jika diketahui, maka politik pasar yang dilakukan oleh pemprov tak akan bisa mendongkrak kembali harga timah dunia. Untuk itu, dua perusahaan besar diminta untuk membatasi produksi dan 15 smelter yang ada untuk tidak melakukan ekspor.

    "Bupati/walikota okeoke saja atas maklumat ini. Tujuan kita kan demi kebaikan bersama. Demi naiknya kembali harga timah kita. Saya yakin, sebelum maklumat ini keluar, sebenarnya sudah banyak tambang yang tutup lebih dulu. Orang juga akan berpikir dua kali kalau menambang tapi harga timah murah," tandasnya.

    Penyelundupan

    Eko juga berharap pihak keamanan termasuk polisi dan TNI agar memperketat pengawasan titiktitik penyelundupan. Ia khawatir, jika maklumat ini mulai diimplementasikan, maka pengusaha nakal akan mengambil jalan pintas dengan menyelundupkan timah melalui perdagangan antar pulau.

    "Jangan sampai terjadi demikian. Kuncinya begini, rakyat boleh saja menjual timah mereka ke pengusaha jika memang ada yang mau jual atau ada yang mau beli. Apalagi harga timah murah. Selanjutnya, timahtimh rakyat itu kita instruksikan untuk ditampung dulu. Jika harga timah sudah normal, maka baru diperbolehkan menjual. Yang terpenting jangan sampai hal ini merugikan dan saya pikir tak akan ada yang dirugikan," kata Eko.

    Pulang Kampung

    Terus melorotnya harga timah di pasaran dunia, membuat sebagian para pengusaha tambang swasta menghentikan aktivitas mereka guna menghindari kerugian. Hal tersebut ternyata berdampak besar bagi pencaharian dan pendapatan ribuan warga pendatang yang mengadu nasib sebagai penambang di Pulau Bangka. Buruknya kondisi harga timah membuat mereka mulai berpikir dua kali untuk melanjutkan hidup di negeri ini. Ada yang memilih pulang ke kampung halaman, namun ada juga yang nekad bertahan dan beralih ke profesi lain.

    Hal tersebut dialami Kuspitoyo (26), warga asal Cilacap Jawa Tengah yang mengaku lebih memilih kembali ke tanah kelahirannya dari pada bertahan tanpa penghasilan yang jelas di Bangka.

    "Saya tidak punya penghasilan tetap lagi. Harga timah turun, upah tidak seberapa. Apa yang mau saya kirim ke Jawa sana? Kalau saya masih bertahan di sini, saya harus hidup bagaimana. Paling saya nguli atau kerja lain yang penghasilannya tak seberapa. Dengan demikian, saya pilih pulang kampung saja," tutur Kuspitoyo saat bertemu harian ini di sebuah agen tiket di Pangkalpinang.

    Ia bersama puluhan rekanrekannya akan segera bertolak dari Bangka. Hargahrga komoditas yang terus melonjak dan penghasila yang minim membuat mereka pusing tujuh keliling. Sarwono, salah satu warga menimpali, kondisi ekonomi di Bangka membuat ia dan rekanrekannya semakin kesulitan. Timah yang menjadi andalan mereka ternyata tak mampu menjadi ladang rezeki.

    "Bos saya sudah berhenti main timah. Katanya rugi besar. Mau nguli, upahnya tak seberapa. Mending pulang kampung sambil garap sawah atau melaut," ungkap Sarwono yang mengaku baru tiga tahun merantau ke Bangka. (bangka pos/i3)

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 11:55 am